
Wednesday, October 19, 2011

Unknown
No comments
Pemeriksaan yang mendukung diagnosa
stroke
Diagnosis stroke biasanya ditegakkan berdasarkan
perjalanan penyakit dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dapat
membantu menentukan lokasi kerusakan pada otak. Untuk membantu
keakuratan diagnosa dilakukan pemeriksaan darah lengkap, elektrolit, dan
imaging (pencitraan).
Pemeriksaan darah lengkap:
- Hb
(haemoglobin).
- Hitung sel eritrosit.
- Hematocrit (Hct)
- Laju Endap Darah (LED)
Untuk pemeriksaan haemoglobin pada
seseorang yang diduga terkena serangan stroke biasanya Hb nya normal
tinggi yaitu ± 16 gr %, sedangkan untuk hitung sel eritrosit sekitar 4,5
– 5 juta sel, untuk hematocrit > 50 %, LED sekitar 0 – 2 mm/ 1jam
atau 2 jam.
Pemeriksaan elektrolit
- ion Na
- ion Cl
Pemeriksaan elektrolit yang penting adalah ion Na dan ion Cl, apabila
hasil kadarnya normal tinggi atau melebihi batas normal atas menunjukan
bahwa oaring tersebut biasanya mengidap hipertensi.
Pemeriksaan imaging.
Ada dua jenis teknik pemeriksaan imaging
(pencitraan) untuk mengevaluasi kasus stroke atau penyakit pembuluh
darah otak (Cerebrovascular Disease/CVD), yaitu Computed Tomography (CT
scan) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).
CT scan diketahui
sebagai pendeteksi imaging yang paling mudah, cepat dan relatif murah
untuk kasus stroke. Namun dalam beberapa hal, CT scan kurang sensitif
dibanding dengan MRI, misalnya pada kasus stroke hiperakut.
Untuk memperkuat diagnosis biasanya dilakukan pemeriksaan CT scan atau
MRI. Kedua pemeriksaan tersebut juga bisa membantu menentukan penyebab
dari stroke, apakah perdarahan atau tumor otak. Kadang dilakukan
angiografi yaitu penentuan susunan pembuluh darah/getah bening melalui
kapilaroskopi atau fluoroskopi.
Posted in: Neurologi,Stroke
Email This
BlogThis!
Share to Facebook
0 comments:
Post a Comment